Rabu, 23 Januari 2013

Info Dana Bpjs Defisit Tersedot Penyakit Tanggapan Rokok

judi36
Data yang dimiliki oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan bahwa jenis penyakit kardiovaskular menyerupai penyakit jantung dan stroke yakni yang paling banyak menyedot dana BPJS selama ini.

Seperti diketahui, salah satu pemicu dari munculnya penyakit-penyakit kardiovaskular yakni kebiasaan merokok. Tak heran bila Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mendorong ilmuwan tanah air untuk melaksanakan studi terkait pengaruh tembakau terhadap kesehatan dan biaya kesehatan di dalam negeri.

“Selama ini bicara pengaruh tembakau selalu mengutip penelitian dari luar negeri. Padahal bicara wacana pengaruh tembakau di Indonesia, tetapi mengutipnya hasil penelitian dari luar,” ucap Menkes di Jakarta, Rabu (22/11).
Penelitian ini penting dilakukan, terutama di negeri sendiri lantaran pada masa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini segala data dan pengaruh bisa lebih gampang didapatkan dan dikaji.

“Mungkin di dalam negeri juga bisa dilakukan kajian dan penelitian lantaran angka perokok di Indonesia juga tinggi,” tambahnya.

Jika jumlah penderita penyakit kardiovakular menyerupai jantung dan stroke sanggup diturunkan, maka dampaknya akan sangat banyak untuk kebaikan masyarakat sendiri. Bagi BPJS Kesehatan pun akan lebih bermanfaat lantaran dana yang dikeluarkan untuk proses pengobatan pasien penyakit-penyakit yang dipicu oleh kebiasaan merokok itu bisa dihemat.

8 penyakit yang turut didanai penerima BPJS


BPJS Kesehatan terus berupaya mencari jalan untuk mengatasi permasalahan defisit keuangan yang selalu membebani kinerja mereka. Wacana terbaru dengan akan melibatkan penerima dalam mendanai perawatan penyakit berbiaya tinggi dan berbahaya.

Delapan penyakit yang pendanaannya bisa ditanggung bersama antara BPJS Kesehatan dengan pasien; jantung, kanker, gagal ginjal stroke, thalasemia, sirosis hati, leukimia dan hemofilia. Fahmi Idris, Dirut BPJS Kesehatan mengatakan, pembiayaan perawatan penyakit tersebut selama ini cukup menguras kantong BPJS Kesehatan.

Maklum saja, biaya yang harus dirogoh dari kantong BPJS Kesehatan untuk membiayai perawatan penyakit tersebut besar. Untuk jantung, sepanjang 2016 kemarin, total belanja BPJS Kesehatan yang harus dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiaya perawatan penyakit tersebut mencapai Rp 7,485 triliun.

Untuk kanker, gagal ginjal, stroke, thalasemia, sirosis hepatitis, leukimia, hemofilia masing-masingnya mencapai; Rp 2,35 triliun, Rp 2,592 triliun, Rp 1,288 triliun, Rp 485, 193 miliar, Rp 232, 958 miliar, Rp 183,295 miliar dam Rp 119,64 miliar.

Jika ditotal, biaya perawatan yang harus dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk perawatan penyakit tersebut mencapai Rp 14, 692 triliun atau 21,84% dari total seluruh biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan pada 2016 kemarin. "Cost sharing ini harus kami sampaikan agar masyarakat tidak kaget," katanya Kamis (23/11).

Fahmi mengatakan, masih belum tahu berapa porsi pendanaan perawatan yang akan dibebankan kepada penerima BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan hingga ketika ini masih menghitung rincian beban yang akan dikenakan.

Fahmi hanya memastikan, pembagian beban tersebut tidak akan diberikan kepada semua peserta. Pembagian beban hanya akan dilakukan dengan penerima dari golongan masyarakat mampu.




Rata-rata perokok akan berhenti sesudah didiagnosa terkena penyakit dan tau besarnya biaya & tagihan pengobatan Rumah Sakit jawaban rokok yang bisa mencapai puluhan juta rupiah


Baca Juga

Seberapa Bahaya Asap Rokok Bagi Bayi atau Balita ?



references by sidomi, kontan
judi36